
Rela Meninggalkan Kenikmatan Hidup, Demi Masuk Islam
Bulan November tahun 2006, menjadi bulan bersejarah bagi remaja Jerman itu. Karena pada saat itu ia yang masih berusia 17 tahun mengucapkan dua kalimat syahadat dan menjadi seorang Muslim. Ia memilih Yahya, sebagi nama Islamnya dan sejak itu remaja Jerman yang kini tinggal di Postdam, dikenal dengan nama Yahya Schroder.
Yahya hidup berkecukupan dengan ibu dan ayah tirinya di sebuah desa kecil di Jerman. Ia tinggal di rumah yang besar lengkap dengan kolam renang yang luas. Di kamarnya ada tv dan play station dan Yahya tidak pernah kesulitan dalam masalah uang. Seperti remaja lainnya, Yahya sering pergi bergerombol bersama teman-temannya, minum alkohol atau melakukan hal-hal yang konyol.
Tapi semua kenikmatan dunia itu harus ia tinggalkan ketika ia memutuskan masuk Islam. Setelah menjadi seorang mualaf, Yahya memilih tinggal dekat ayahnya yang sudah lebih dulu masuk Islam, di Postdam dekat kota Berlin. Yahya mengaku tidak merasa bahagia meski saat masih ikut ibu dan ayah tirinya yang kaya, hidupnya serba enak. "Saya mencari sesuatu yang lain," ujarnya.
Yahya mengenal komunitas Muslim di Postdam ketika ia berusia 16 tahun, lewat ayah kandungnya yang lebih dulu masuk Islam pada tahun 2001. Ketika itu, ia biasa mengunjungi ayah kandungnya sebulan sekali dan sering ikut sang ayah menghadiri pertemuan-pertemuan dengan komunitas Muslim yang diselenggarakan setiap hari Minggu.
Yahya merasa tertarik dengan Islam dan ayahnya memperhatikan hal itu. Hingga suatu hari sang ayah mengatakan tidak mau membahas soal Islam ketika mereka sedang berdua saja. Ayah Yahya menginginkan puteranya itu belajar dari orang-orang yang ilmunya tentang Islam lebih tinggi agar jika Yahya masuk Islam tidak dipandang cuma ikut-ikutan apa yang telah dilakukan ayahnya.
"Saya setuju dengan ayah dan saya mulai menghadiri pertemuan-pertemuan itu sendiri, setiap bulan. Tapi saat itu terjadi sesuatu hal yang mengubah cara berpikir saya," ujar Yahya.
Yahya bercerita, ia mengalami kecelakaan saat pergi berenang bersama komunitas Muslim. Ketika ia melompat ke kolam renang dari ketinggian, kepalanya membentur dasar kolam renang dan tulang punggungnya patah. Ayahnya membawa Yahya ke rumah sakit dan dokter di rumah sakit itu mengatakan hal yang membuat gentar hatinya.
"Punggungmu mengalami patah tulang yang parah, satu satu saja gerakan yang salah, bisa membuatmu lumpuh," kata dokter.
Yahya harus menjalani operasi. Beberapa saat sebelum masuk ruang operasi, teman Yahya di komunitas Muslim bernama Ahmir memberinya semangat, "Yahya, sekarang engkau berada di tangan Allah. Ini seperti naik rollercoaster. Sekarang engkau sedang berada dalam puncak kenikmatan naik sebuah rollercoaster dan percayalah pada Allah."
Operasi berlangsung selama lima jam dan Yahya baru siuman tiga hari kemudian. "Saya tidak bisa menggerakan tangan kanan saya, tapi saya merasa sangat bahagia. Saya bilang ke dokter bahwa saya tidak peduli dengan tangan kanan saya. Saya sudah sangat bahagia Allah telah membiarkan saya tetap hidup," tutur Yahya. Dokter mengatakan Yahya harus dirawat di rumah sakit dalam beberapa bulan. Tapi Yahya cuma dua minggu di rumah sakit, karena ia berlatih dengan keras. Yahya bahkan sudah bisa naik turun tangga dua hari sebelum seorang dokter datang dan mengatakan bahwa hari itu ia akan berlatih naik tangga.
"Alhamdulillah saya cuma dua minggu di rumah sakit. Sekarang saya sudah bisa menggerakan tangan kanan saya. Kecelakaan itu telah banyak mengubah kepribadian saya," aku Yahya.
"Saya merasakan, ketika Allah menginginkan sesuatu terjadi, hidup seseorang berubah total dalam hitungan detik. Oleh sebab itu, saya lebih menghargai kehidupan dan mulai berpikir tentang kehidupan saya dan Islam, tapi saat itu saya masih tinggal di sebuah desa kecil," kisah Yahya.
Keinginan Yahya untuk menjadi seorang Muslim makin kuat, sehingga ia berani memutuskan untuk meninggalkan keluarganya di desa itu. Yahya menuturkan, "Saya meninggalkan ibu dan ayah tiri saya, meninggalkan gaya hidup saya yang mewah dan pergi ke Postdam, tinggal di apartemen kecil ayah kandung saya. Saya tak keberatan harus menempati sebuah dapur kecil, karena saya cuma membawa sedikit pakaian, buku-buku sekolah dan beberapa CD."
"Kedengarannya saya kehilangan segalanya, tapi saya merasa bahagia, sebahagia ketika saya siuman di rumah sakit setelah kecelakaan buruk itu," ujar Yahya.
Diejek Teman Sekolah
Sehari setelah hari pertamanya masuk sekolah di Postdam, Yahya mengucapkan dua kalimat syahadat. Yahya pun menjalani kehidupan barunya sebagai seorang Muslim, meski di sekolah banyak yang mengejeknyakarena menjadi seorang Muslim. Beberapa orang menganggapnya "gila" bahkan tidak percaya kalau dirinya orang Jerman asli.
"Saya melihatnya sebagai hal yang biasa karena informasi yang mereka baca di media tentang Islam dan Muslim. Media massa menulis tentang Islam yang disebut teroris, Usamah bin ladin, Muslim yang jahat, dan sebagainya," tukas Yahya.
Sepuluh bulan berlalu dan situasi mulai berubah. Yahya aktif berdakwah pada teman-teman sekelasnya dan ia mendapatkan sebuah ruangan untuk salat, padahal cuma dia satu-satunya siswa Muslim di sekolahnya.
"Teman-teman sekelas berubah, yang dulunya menggoda saya karena masuk Islam, sekarang banyak bertanya tentang Islam dan mereka mengakui Islam tidak sama dengan agama-agama lainnya. Menurut mereka, Islam itu keren!" kata Yahya menirukan pendapat teman-temannya.
Yahya mengungkapkan, teman-teman sekolahnya menilai Muslim memiliki adab yang baik dalam berinteraksi dengan sesama manusia, bebas dari tekanan teman sekelompok seperti yang terjadi di sekolah mereka. Saat itu siswa-siswi di sekolah Yahya cenderung berkelompok atau membentuk genk, mulai dari genk hip hop, punk sampai kelompok genk siswa yang hobinya berpesta. Setiap siswa berusaha keras untuk diterima menjadi anggota genk itu.
Tapi Yahya, ia bisa berteman dengan siapa saja. "Saya tidak perlu mengenakan pakaian khusus agar terlihat keren. Yang terjadi malah, genk-genk itu sering mengundang saya dan teman-teman Muslim saya ke pesta-pesat barbeque mereka," tandasnya.
"Yang istimewa dari semua ini adalah, mereka menghormati saya sebagai seorang Muslim. Mereka membelikan makanan halal buat saya dan mereka menggelar dua pesta barbeque, satu untuk mereka dan satu untuk kami yang Muslim. Masyarakat disini sudah mulai terbuka dengan Islam," sambung Yahya mengenang masa-masa sekolahnya.
Yahya menambahkan, ia merasa lebih mudah menjadi seorang mualaf daripada menjadi seorang yang memang sudah Muslim sejak lahir. Ia banyak melihat banyak anak-anak muda Muslim yang ingin menjadi orang Jerman dan melihat Islam hanya sebagai tradisi. Anak-anak muda itu, kata Yahya, bersedia melepas 'tradisi' keislamannya supaya bisa diterima di tengah masyarakat Jerman.
"Meskipun faktanya, orang-orang Jerman tetap tidak mau menerima mereka meski mereka melepas agama Islamnya," ujar Yahya.
Ia mengakui, kehidupan seorang Muslim di Jerman tidak mudah karena mayoritas masyarakat Jerman buta tentang Islam. "Kalau mereka ditanya tentang Islam, mereka akan mengatakan sesuatu tentang Arab. Buat mereka, pertanyaan itu seperti soal matematika, Islam=Arab". Padahal negara ini memiliki bangsa yang besar," tukas Yahya. (ln/readislam)
Friday, July 23, 2010
Yahya Schroder
Saturday, June 12, 2010
Bukti..
Kisah saudara Islam Abu Bakar (dalam klip video you tube Maher Zain ini) yang mencari BUKTI di dalam mehahami konsep ketuhanan di dalam Islam.
1/28/09
Abu Bakr’s Way To Islam
The following is the true account of an Australian revert taken from the honours thesis of Sister Tuba Boz. His name is Abu Bakr, and while his name, like many of those of his fellow-reverts, is chosen for its meaning and its nearness to some aspect of Islam, or that of the life of the Prophet of Arabia, Muhammad (peace and blessings of Allah be upon him), his story is truly that of an Australian young man with all his Australianism intact. And though he, himself, does not wish to be seen as other than a Muslim, it is, for fellow-Australians, encouragement and living proof of the Qur’anic ayat:
“ O mankind We created you from a single (pair) of a male and a female,
And made you into nations and tribes,
That ye may know each other, Not that ye may despise (each other).
Verily the most honoured of you in the Sight of Allah
Is (he who is) the most righteous of you.
And Allah has full knowledge
And is well acquainted (with all things).”
Surah 49:13
If one had told Abu Bakr earlier, that he would one day become a Muslim, his reply would most probably have been, “Naah! No way!!!” for like many Australians his perception of Muslims was that they were terrorists. However, there is no accounting for the Mercy and Graciousness of Allah who leads to His Path those whom He wills from all peoples upon the earth; and Abu Bakr was to find this in due course.
When asked what had triggered his search to find the true meaning of life, for that was the primary aim of his quest, his response was this: “There were a couple of things. It was the year my parents said they were going to separate. It was not the year they formally divorced, but it was the year my Dad moved out of the house. I went a little off the rails. I (even) had trouble with the police.. . . I was drinking a lot.” It may be seen that this was a painful time for this young man. This was to be further compounded, for it was in this year that one of his friends died. Of this event he said: “That led me to think, ‘There’s my mate. He just died, and he is only eighteen years old! Is he just worm food?’ You know what I mean. That’s when I started relating it to my life, thinking, ‘If I died tomorrow what would it matter? What would it matter except to the few who know me among the billions on this Earth?’ So I started thinking, ‘No! There has to be more. There has to be more than just this!’”
It was with these questions in mind that Abu Bakr commenced his journey, looking to religion for the meaning of existence. He describes his experiences in this way:
“First, I mean, logically, I’m an Aussie, so I went straight to Christianity, and I thought I’d have that fish sticker on the back of my car, and “I love Jesus”. I was thinking I’d go buy them and see if they did something for my parking fine!” his waggish sense of humour bubbling to the fore. Then seriously he explains, “Honestly I went through all the (Christian) religions; well not all the religions, but the ones I had access to I investigated. Christianity, including Catholicism, I investigated quite a bit. But the problem was I just couldn’t find the answer. While they were all nice, I couldn’t sit there and say, ‘This is the religion for me!’ and ‘This sounds beautiful!’”
His search continued:
“I looked at Hinduism when I was working in a service station with some Hindu friends. We had conversations all the time. We didn’t argue because we were pretty good friends. One would say, ‘You have to believe in this god about this, and this god of that.’ I would go, ‘Come on man! What if they argue?’ He was not to know it, but his argument was one already mentioned in the Qur’an: “Allah hath not chosen any son, nor is there any god along with Him; else would each god have assuredly championed that which he created, and some of them would assuredly have overcome others. Glorified be Allah above all that they allege.” Surah 23:91
“Then I looked at Judaism. Again it didn’t get me in the way that I thought it would!”
“However, what started to get me was Buddhism. I thought, ‘This is really nice you know!’ But nowhere
could I read or see that Buddha was actually talking about himself. Not (other than) as a person that you
follow - not as a deity! And this was a religion. “So you know what I mean, it was just a nice way to be. It’s
not ‘This is the purpose of why you are here’. And while it was nice I thought, ‘This can’t be it either.’
“My friend, a Christian who had earlier said to ‘vow to God’, said, ‘Why don’t you try Islam?’
I said, ‘Naah man! They’re terrorists! I’m not going near a mosque. No way!’
“But I found myself near a mosque, Preston Mosque. I went in and started to ask questions. And basically every question I asked, no-one would answer from their minds, everyone was pulling out a Qur’an and saying, ‘Here it is.’ And that really surprised me because (almost) every time I went to a priest, I did not see the Bible once. They almost never pulled out the Bible, they were just, ‘Here’s your answer.’ This was the same with almost every religion. There were some who did read from the Bible a couple of times. But in the mosque, every single time - out came the Qur’an, and that got me. This is not about these people, it’s about the Book, and that’s when I started reading the Qur’an. It took months and months though, six to seven months. I had a lot of questions!”
At the end of these months how did this young man, now twenty years of age, decide to become Muslim?
The crucial moment of his conversion came one night, as he explained:
“One night I had just been speaking to a couple of Australian brothers at the mosque. They told me to take the Qur’an home and read it. I had already taken one, but they gave me this one with big letters - the other one I had was little and was harder to read. That night I sat in bed and lit a candle. I had the window open. It was a nice summer’s night. It had this atmosphere, this religious atmosphere. I was set, and I was sitting there thinking, ‘This is beautiful and very sacred!’
“Everything was really good and I started reading Qur’an and thinking, ‘This is very beautiful, it says exactly what I think it should say.’ It feels like it’s right you know, but I’m not quite there, you know! I just need a bit of a hand. And I sat back, Qur’an in hand, and said, ‘O God, give me a sign! But it has to be pretty good - like lightning,’ - and it was a clear summer’s night. ‘If you do lightning, I’m yours - I’m your servant. And maybe if you can’t do lightning - something like a crack or something; or a flash of light; or the candle! I would be pretty impressed if the candle just blew up to about two feet high, you know, like in the movies!”
“And I’m sitting there waiting!”. . . . .
“Nothing at all happened! Like I couldn’t even say a creak in the wall was my sign! So I’m sitting there pretty disappointed, and I’m angry . . Right? And I’m like, ‘God, I’m asking you. You’re supposed to be All-Powerful! Alright - I’m going to give you a second chance.’ Like that was a fair bit to ask - summer, lightning! ‘Okay, maybe like, a car can just backfire that goes past - that’s something that happens all the time, but at least I’ll know it’s for me.’ So I lowered my levels . . Right?
“Subhan’Allah!” (Exalted is Allah) he exclaims, shaking his head at the very thought of it. “And I’m sitting there thinking, ‘Alright!’ So I look around again - Nothing! All is so silent . . I could have been in space. Not even an ant made a noise, and by this time I was shattered, because this was the moment! I had thought, ‘This is it!’ you know, ‘This is my time!’ . . . And nothing happened!”
“So I’m sitting there, pretty disappointed, and I thought, ‘I may as well keep on reading Qur’an”. So I looked down and turned the page, and the very next ayat (verse) was something to the effect: For those of you who ask for signs, have I not shown you enough already? Look around at the sky, the trees, the water, these are your signs. These are the Signs for those who know!”
“Lo! In the creation of the heavens and the earth, and the difference of night and day, and the ships which run upon the sea with that which is of use to men, and the water which Allah sendeth down from the sky, thereby reviving the earth after its death, and dispersing all kinds of beasts therein, and (in) the ordinance of the winds, and the clouds obedient between heaven and earth: are signs (of Allah's Sovereignty) for people who have sense.” Surah 2:162
“I was sitting down; I freaked out! I closed the Qur’an and chucked the quilt over my head. I was freaking out because here it was! You know what I mean?”
“So the next morning I went straight to the mosque and told them I wanted to become Muslim, because I had had my sign. I had it, even thought it was not my sign. I shouldn’t be arrogant and think I have a sign.
Isn’t the water my sign and all these things around me are signs, you know, that there is a Creator!”
With this in mind, one cannot help but wonder whether this young man had put aside all his previous fears of terrorism and danger which he and countless peoples perceive to be part of Islam and Muslims?
“That evening at the mosque there were all these Muslims there - heaps of people! And I’m thinking, ‘Look at this religion. So many people! They’re all so strong!’ Then I realised that it was the first night of Ramadan, the fasting month. They were all there to do their last prayer (for the day) you know. But I really did think this was amazing. So you see, my first real experience there was this. Quite honestly there must have been a thousand people at Preston Mosque that night, maybe more!
“While I was waiting to give the Shahadah (the declaration of faith) there at tarawih (the night prayer during Ramadan), I’m sitting there thinking, ‘If I get these words wrong I’m a dead man! They’re going to kill me!’
“So now I’m standing up there, in front of all these people, and Sheikh Fehmi says to me, ‘These are the words that you say,’ and so I started saying them. And I’ve got to admit that I was nervous before - but as soon as I started speaking the words, I felt like it was just me standing there by myself; like, that there was no-one else, and I felt, honestly, the only way I can describe this feeling is as if there is a shower on the inside of my head - a cold shower, going straight through my body. I’m standing there, hair standing on end . . . then all the brothers came and hugged me!”
One can only imagine the warmth and fellowship that this young brother experienced; such that fear of terrorism and its accompanying horrors melted away in the light of knowledge and the empathy of brotherhood which is peculiar to Islam alone. Is it not said: “He it is that hath strengthened thee (Muhammad) with His aid and with (the company of) the Believers. And (moreover) He hath put affection between their hearts: Not if thou hadst spent all that is in the earth, couldst thou have produced that affection, but Allah hath done it: for He is Exalted in might, Wise.”(Qur’an 8:62,63).
However, this was not all he learned, his education was just beginning:
“But you know, I didn’t even know how to pray! I had to fast - and I was still eating ham! I didn’t even know that you shouldn’t eat it - so I’m fasting and then eating, like, a whopper burger with ham. I didn’t know it was haram (forbidden) but I did know that you’re not supposed to eat from before sunrise until after sunset. You know, I was fasting, but it was pretty hard!”
So did Abu Bakr, his chosen Islamic name, finally reach his goal?
“I (now) know why I am here; what I am here to do; and what it is all about.”
When asked if becoming Muslim had changed his personality and his life his reply was:
“I feel like I am here for a different purpose, but I don’t think that if you met me when I was fifteen years old and then you met me now that you’d say, ‘Man! You have changed so much! You’re not the same person I knew before.’ I think I have carried through most of the person I always was. I just don’t do some things I used to do. And I don’t think in some ways about things that I used to think about. I think I’ve always been positive, but Islam has given me that (extra) - like if the guy outside put his bobcat through the house, I’d just go: ‘Subhan’Allah! I’ll have to fix that.’ It’s not like I’m going to go, ‘Oh why do you always do this to me?’ You know, it’s just a thing that is not so important. Probably my priorities are completely different. Like, before, it was all (about) me!”
Abu Bakr’s family received news of his reversion very positively: “My family was happy for me but concerned as to how this would change our relationship.” Of course friendships did not all stand the test: “I lost a few friends (so-called) as I no longer wanted to drink, go out, etc.”
Of reversion generally he stated: “I use the word revert because, I mean, everyone uses convert because that is just a Western ideal. You know (in the Western context) that you have converted to something. But when you look into Islam I guess you realise that the term Muslim just means it comes from Islam, Right? It is a statement of what you are. So Islam means to submit your will to God; to do what God asks you to do; whereas a Muslim is someone who is doing it. So if you are not doing what God has asked you, you are not a Muslim.
So, in effect, Muslim is not a noun, it’s a doing word (a verb). Therefore, my tree in the backyard is doing what God asked it. The tree is Muslim to me, you know! It’s submitting its will to God. Everything has energy. So when you’re born, you’re Muslim, you know! ‘I’m hungry’ - you cry - that’s Islamic you know,” he says laughing. “You are acting in accordance with your nature, and it’s only when you get a little bit older, and people teach you stuff, that you go away from Islam because you take on someone else’s ideals. Then when you want to come back, you revert, because you were already Muslim when you were born.”
So it was that in 1996 in Preston Victoria a young Australian man found that for which he was searching. His life has been quite eventful and it is noted that Abu Bakr is now a Psychologist and a Film maker. May it please Almighty Allah to continue to bless this young man.
Friday, May 21, 2010
Saturday, February 06, 2010
Penentang masjid

Daniel Streich, ahli politik Swiss, yang terkenal kerana kempen menentang pembinaan masjid di negaranya, tanpa disangka-sangka memeluk agama Islam.
Streich merupakan seorang politikus terkenal, dan dia adalah orang pertama yang mencetuskan perihal larangan kubah masjid, dan bahkan mempunyai idea untuk menutup masjid-masjid di Swiss. Dia berasal dari Parti Rakyat Swiss (SVP). Pengumuman kesaksian Streich ke agama Islam membuat heboh seluruh Switzerland.
Streich mempropagandakan anti-gerakan Islam begitu meluas ke seantero negeri. Dia menaburkan benih-benih kemarahan dan cemuhan bagi umat Islam di negara itu, dan membuka jalan bagi opini publik terhadap mimbar dan kubah masjid.
Tapi sekarang Streich telah menjadi seorang pemeluk Islam. Tanpa diduganya sama sekali, pemikiran anti-Islam yang akhirnya membawanya begitu dekat dengan agama ini. Streich bahkan sekarang mempunyai keinginan untuk membangun masjid yang paling indah di Eropah di Switzerland.
Yang paling menarik dalam hal ini adalah bahawa pada saat ini ada empat masjid di Swiss dan Streich ingin membuat masjid yang kelima. Dia mengakui ingin mencari “pengampunan dosanya” yang telah meracuni Islam. Sekarang adalah fakta bahawa larangan kubah masjid telah memperoleh status undang-undang.
Abdul Majid Aldai, presiden OPI, sebuah LSM, bekerja untuk kesejahteraan Muslim, mengatakan bahwa orang Eropah sebenarnya memiliki keinginan yang besar untuk mengetahui tentang Islam. Beberapa dari mereka ingin tahu tentang hubungan antara Islam dan terorisme; sama halnya dengan Streich. Ceritanya, ternyata selama konfrontasi, Streich mempelajari Alquran dan mulai memahami Islam.
Streich adalah seorang anggota penting Partai Rakyat Swiss (SVP). Dia mempunyai posisi penting dan pengaruhnya menentukan tindakan parti. Selain petisyennya tentang kubah masjid itu, dia juga pernah memenangkan militer di Swiss Army kerana popularitinya.
Lahir di sebuah keluarga Kristian, Streich melakukan studi komprehensif Islam semata-mata untuk memfitnah Islam, tapi ajaran Islam memiliki dampak yang mendalam pada dirinya. Akhirnya dia malah antipati terhadap pemikirannya sendiri dan dari kegiatan politiknya, dan dia memeluk Islam. Streich sendiri kemudian disebut oleh SVO sebagai syaitan.
Dulu, dia mengatakan bahwa dia sering meluangkan waktu membaca Alkitab dan sering pergi ke gereja, tapi sekarang dia membaca Alquran dan melakukan solat lima waktu setiap hari. Dia membatalkan keanggotaannya di parti dan membuat pernyataan publik tentang keIslamannya. Streich mengatakan dia telah menemukan kebenaran hidup dalam Islam, yang tidak dapat dia temukan dalam agama sebelumnya.
Friday, February 05, 2010
HidayahNYA di dlm bas

HALIMAH David dibesarkan oleh bapanya dengan penuh kasih sayang malah aspek pemantapan agama Kristian sentiasa menjadi teras dalam pendidikan anak kesayangannya itu.
Lantaran itu, Halimah telah mula membaca kitab Injil sejak di peringkat sekolah rendah lagi. Sayangnya, Halimah tidak berupaya memenuhi permintaan serta cita-cita bapanya agar dia menjadi seorang pengikut agama Kristian yang setia. Ini kerana pada ketika itu jugalah dia sudah mula mempersoalkan beberapa amalan dalam ajaran agama agung bapanya itu yang dikatakan tidak selari dengan fitrah manusia dan pelbagai lagi yang boleh dipersoalkan.
Sehinggakan pada usianya mencecah 12 tahun, Halimah sudah tidak boleh menerima agama Kristian. Namun, dia tidak mampu berbuat apa-apa memandangkan usianya yang baru setahun jagung. Pun begitu, Halimah tidak pernah berhenti mencari Allah Yang Esa dan selalu berdoa agar dipertemukan dengan kebenaran-Nya. Pada usia semuda itu, dia kerap bermonolog dalam diri terutama yang menyentuh kewujudan manusia, makhluk lain dan kejadian alam semula jadi.
Persoalan-persoalan seperti mengapa aku diwujudkan dan bagaimana boleh wujudnya bumi dan alam ini kalau tidak ada satu kuasa hebat di sebaliknya? Halimah kuat mempercayai bahawa semua ini pasti ada yang menjadikannya. Pada usianya 19 tahun, Halimah telah mengembara hampir ke seluruh dunia demi mencari budaya dan kepercayaan lain demi keinginan mencari Allah Yang Maha Berkuasa. Ketika itulah ia mengenali agama Taoism, Wicca, Buddha, Rastafarian, Yahudi, Free Masonry, Kristian, Hindu, Animisme dan banyak lagi.
Menerusi pencariannya itu juga Halimah pernah mengenali tentang agama Islam. Dia tahu bahawa agama Islam itu mengakui tiada Tuhan yang disembah melainkan Allah dan Nabi Muhammad itu pesuruh Allah.
Seperkara yang menghairankan Halimah pada agama Islam ialah solat lima waktu sehari semalam. Ini kerana dia merasakan ia sesuatu yang menyukarkan dan tidak mungkin ia adalah agama yang dicari-cari selama ini.
Masa berlalu, apa yang dicari tidak juga ditemui, lantas Halimah pulang ke Amerika Syarikat dengan perasaan hampa dan kecewa kerana apa yang diingini tidak kesampaian.
Pada usianya menghampiri 21 tahun, dia mengambil keputusan mengikuti bidang perubatan yang menjadi impian dan cita-citanya sejak kecil. Keputusan ini juga merupakan satu langkah untuk melupakan kekecewaan. Alhamdulillah, Halimah lulus peperiksaan khas kemasukan. Untuk ke kolej, Halimah terpaksa mengambil bas Greyhound dari Michigan menuju ke Colorado. Semasa dalam perjalanan itulah, anak gadis ini berkenalan dengan seorang pemuda yang duduk di belakangnya. Namanya, Ibrahim yang berasal dari Afrika dan mengambil bidang kejuruteraan di kolej yang sama.
Ibrahim memberitahu Halimah yang dia beragama Islam. Sepanjang perjalanan itulah banyaklah yang diceritakan oleh Ibrahim tentang agama Islam kepada Halimah disertakan sekali dengan petikan ayat-ayat daripada al-Quran. Apatah lagi, Halimah memang sedang mencari agama yang benar-benar boleh mengisi kekosongan dalaman yang dicari-cari selama ini. Hati Halimah sudah jatuh cinta kepada agama Islam, waima mereka baru berbual 15 minit. Tanpa berlengah, Halimah terus menyuarakan keinginannya untuk bergelar Muslim dan akhirnya mengucap dua kalimah syahadah dengan bantuan Ibrahim. Saat itu juga Halimah tidak meneruskan pengajiannya tetapi mengambil keputusan mendalami agama Islam dan berpindah ke Utah. Di sana, Halimah bertemu dengan ramai Muslim dan mereka menerimanya sebagai sebahagian daripada komuniti Islam di situ serta mengajarnya tentang agama Islam.
Kini, Halimah sudah berkahwin dan gembira menguruskan rumah tangga. Di samping itu, beliau juga menulis buku-buku ilustrasi untuk kanak-kanak. Dia turut mengendalikan laman web berkaitan kepercayaan Islam, keperibadian, sikap dan etika perniagaan Islamik.
Petikan daripada laman web Islam Online.net.
Friday, July 23, 2010
Yahya Schroder

Rela Meninggalkan Kenikmatan Hidup, Demi Masuk Islam
Bulan November tahun 2006, menjadi bulan bersejarah bagi remaja Jerman itu. Karena pada saat itu ia yang masih berusia 17 tahun mengucapkan dua kalimat syahadat dan menjadi seorang Muslim. Ia memilih Yahya, sebagi nama Islamnya dan sejak itu remaja Jerman yang kini tinggal di Postdam, dikenal dengan nama Yahya Schroder.
Yahya hidup berkecukupan dengan ibu dan ayah tirinya di sebuah desa kecil di Jerman. Ia tinggal di rumah yang besar lengkap dengan kolam renang yang luas. Di kamarnya ada tv dan play station dan Yahya tidak pernah kesulitan dalam masalah uang. Seperti remaja lainnya, Yahya sering pergi bergerombol bersama teman-temannya, minum alkohol atau melakukan hal-hal yang konyol.
Tapi semua kenikmatan dunia itu harus ia tinggalkan ketika ia memutuskan masuk Islam. Setelah menjadi seorang mualaf, Yahya memilih tinggal dekat ayahnya yang sudah lebih dulu masuk Islam, di Postdam dekat kota Berlin. Yahya mengaku tidak merasa bahagia meski saat masih ikut ibu dan ayah tirinya yang kaya, hidupnya serba enak. "Saya mencari sesuatu yang lain," ujarnya.
Yahya mengenal komunitas Muslim di Postdam ketika ia berusia 16 tahun, lewat ayah kandungnya yang lebih dulu masuk Islam pada tahun 2001. Ketika itu, ia biasa mengunjungi ayah kandungnya sebulan sekali dan sering ikut sang ayah menghadiri pertemuan-pertemuan dengan komunitas Muslim yang diselenggarakan setiap hari Minggu.
Yahya merasa tertarik dengan Islam dan ayahnya memperhatikan hal itu. Hingga suatu hari sang ayah mengatakan tidak mau membahas soal Islam ketika mereka sedang berdua saja. Ayah Yahya menginginkan puteranya itu belajar dari orang-orang yang ilmunya tentang Islam lebih tinggi agar jika Yahya masuk Islam tidak dipandang cuma ikut-ikutan apa yang telah dilakukan ayahnya.
"Saya setuju dengan ayah dan saya mulai menghadiri pertemuan-pertemuan itu sendiri, setiap bulan. Tapi saat itu terjadi sesuatu hal yang mengubah cara berpikir saya," ujar Yahya.
Yahya bercerita, ia mengalami kecelakaan saat pergi berenang bersama komunitas Muslim. Ketika ia melompat ke kolam renang dari ketinggian, kepalanya membentur dasar kolam renang dan tulang punggungnya patah. Ayahnya membawa Yahya ke rumah sakit dan dokter di rumah sakit itu mengatakan hal yang membuat gentar hatinya.
"Punggungmu mengalami patah tulang yang parah, satu satu saja gerakan yang salah, bisa membuatmu lumpuh," kata dokter.
Yahya harus menjalani operasi. Beberapa saat sebelum masuk ruang operasi, teman Yahya di komunitas Muslim bernama Ahmir memberinya semangat, "Yahya, sekarang engkau berada di tangan Allah. Ini seperti naik rollercoaster. Sekarang engkau sedang berada dalam puncak kenikmatan naik sebuah rollercoaster dan percayalah pada Allah."
Operasi berlangsung selama lima jam dan Yahya baru siuman tiga hari kemudian. "Saya tidak bisa menggerakan tangan kanan saya, tapi saya merasa sangat bahagia. Saya bilang ke dokter bahwa saya tidak peduli dengan tangan kanan saya. Saya sudah sangat bahagia Allah telah membiarkan saya tetap hidup," tutur Yahya. Dokter mengatakan Yahya harus dirawat di rumah sakit dalam beberapa bulan. Tapi Yahya cuma dua minggu di rumah sakit, karena ia berlatih dengan keras. Yahya bahkan sudah bisa naik turun tangga dua hari sebelum seorang dokter datang dan mengatakan bahwa hari itu ia akan berlatih naik tangga.
"Alhamdulillah saya cuma dua minggu di rumah sakit. Sekarang saya sudah bisa menggerakan tangan kanan saya. Kecelakaan itu telah banyak mengubah kepribadian saya," aku Yahya.
"Saya merasakan, ketika Allah menginginkan sesuatu terjadi, hidup seseorang berubah total dalam hitungan detik. Oleh sebab itu, saya lebih menghargai kehidupan dan mulai berpikir tentang kehidupan saya dan Islam, tapi saat itu saya masih tinggal di sebuah desa kecil," kisah Yahya.
Keinginan Yahya untuk menjadi seorang Muslim makin kuat, sehingga ia berani memutuskan untuk meninggalkan keluarganya di desa itu. Yahya menuturkan, "Saya meninggalkan ibu dan ayah tiri saya, meninggalkan gaya hidup saya yang mewah dan pergi ke Postdam, tinggal di apartemen kecil ayah kandung saya. Saya tak keberatan harus menempati sebuah dapur kecil, karena saya cuma membawa sedikit pakaian, buku-buku sekolah dan beberapa CD."
"Kedengarannya saya kehilangan segalanya, tapi saya merasa bahagia, sebahagia ketika saya siuman di rumah sakit setelah kecelakaan buruk itu," ujar Yahya.
Diejek Teman Sekolah
Sehari setelah hari pertamanya masuk sekolah di Postdam, Yahya mengucapkan dua kalimat syahadat. Yahya pun menjalani kehidupan barunya sebagai seorang Muslim, meski di sekolah banyak yang mengejeknyakarena menjadi seorang Muslim. Beberapa orang menganggapnya "gila" bahkan tidak percaya kalau dirinya orang Jerman asli.
"Saya melihatnya sebagai hal yang biasa karena informasi yang mereka baca di media tentang Islam dan Muslim. Media massa menulis tentang Islam yang disebut teroris, Usamah bin ladin, Muslim yang jahat, dan sebagainya," tukas Yahya.
Sepuluh bulan berlalu dan situasi mulai berubah. Yahya aktif berdakwah pada teman-teman sekelasnya dan ia mendapatkan sebuah ruangan untuk salat, padahal cuma dia satu-satunya siswa Muslim di sekolahnya.
"Teman-teman sekelas berubah, yang dulunya menggoda saya karena masuk Islam, sekarang banyak bertanya tentang Islam dan mereka mengakui Islam tidak sama dengan agama-agama lainnya. Menurut mereka, Islam itu keren!" kata Yahya menirukan pendapat teman-temannya.
Yahya mengungkapkan, teman-teman sekolahnya menilai Muslim memiliki adab yang baik dalam berinteraksi dengan sesama manusia, bebas dari tekanan teman sekelompok seperti yang terjadi di sekolah mereka. Saat itu siswa-siswi di sekolah Yahya cenderung berkelompok atau membentuk genk, mulai dari genk hip hop, punk sampai kelompok genk siswa yang hobinya berpesta. Setiap siswa berusaha keras untuk diterima menjadi anggota genk itu.
Tapi Yahya, ia bisa berteman dengan siapa saja. "Saya tidak perlu mengenakan pakaian khusus agar terlihat keren. Yang terjadi malah, genk-genk itu sering mengundang saya dan teman-teman Muslim saya ke pesta-pesat barbeque mereka," tandasnya.
"Yang istimewa dari semua ini adalah, mereka menghormati saya sebagai seorang Muslim. Mereka membelikan makanan halal buat saya dan mereka menggelar dua pesta barbeque, satu untuk mereka dan satu untuk kami yang Muslim. Masyarakat disini sudah mulai terbuka dengan Islam," sambung Yahya mengenang masa-masa sekolahnya.
Yahya menambahkan, ia merasa lebih mudah menjadi seorang mualaf daripada menjadi seorang yang memang sudah Muslim sejak lahir. Ia banyak melihat banyak anak-anak muda Muslim yang ingin menjadi orang Jerman dan melihat Islam hanya sebagai tradisi. Anak-anak muda itu, kata Yahya, bersedia melepas 'tradisi' keislamannya supaya bisa diterima di tengah masyarakat Jerman.
"Meskipun faktanya, orang-orang Jerman tetap tidak mau menerima mereka meski mereka melepas agama Islamnya," ujar Yahya.
Ia mengakui, kehidupan seorang Muslim di Jerman tidak mudah karena mayoritas masyarakat Jerman buta tentang Islam. "Kalau mereka ditanya tentang Islam, mereka akan mengatakan sesuatu tentang Arab. Buat mereka, pertanyaan itu seperti soal matematika, Islam=Arab". Padahal negara ini memiliki bangsa yang besar," tukas Yahya. (ln/readislam)
Saturday, June 12, 2010
Bukti..
Kisah saudara Islam Abu Bakar (dalam klip video you tube Maher Zain ini) yang mencari BUKTI di dalam mehahami konsep ketuhanan di dalam Islam.
1/28/09
Abu Bakr’s Way To Islam
The following is the true account of an Australian revert taken from the honours thesis of Sister Tuba Boz. His name is Abu Bakr, and while his name, like many of those of his fellow-reverts, is chosen for its meaning and its nearness to some aspect of Islam, or that of the life of the Prophet of Arabia, Muhammad (peace and blessings of Allah be upon him), his story is truly that of an Australian young man with all his Australianism intact. And though he, himself, does not wish to be seen as other than a Muslim, it is, for fellow-Australians, encouragement and living proof of the Qur’anic ayat:
“ O mankind We created you from a single (pair) of a male and a female,
And made you into nations and tribes,
That ye may know each other, Not that ye may despise (each other).
Verily the most honoured of you in the Sight of Allah
Is (he who is) the most righteous of you.
And Allah has full knowledge
And is well acquainted (with all things).”
Surah 49:13
If one had told Abu Bakr earlier, that he would one day become a Muslim, his reply would most probably have been, “Naah! No way!!!” for like many Australians his perception of Muslims was that they were terrorists. However, there is no accounting for the Mercy and Graciousness of Allah who leads to His Path those whom He wills from all peoples upon the earth; and Abu Bakr was to find this in due course.
When asked what had triggered his search to find the true meaning of life, for that was the primary aim of his quest, his response was this: “There were a couple of things. It was the year my parents said they were going to separate. It was not the year they formally divorced, but it was the year my Dad moved out of the house. I went a little off the rails. I (even) had trouble with the police.. . . I was drinking a lot.” It may be seen that this was a painful time for this young man. This was to be further compounded, for it was in this year that one of his friends died. Of this event he said: “That led me to think, ‘There’s my mate. He just died, and he is only eighteen years old! Is he just worm food?’ You know what I mean. That’s when I started relating it to my life, thinking, ‘If I died tomorrow what would it matter? What would it matter except to the few who know me among the billions on this Earth?’ So I started thinking, ‘No! There has to be more. There has to be more than just this!’”
It was with these questions in mind that Abu Bakr commenced his journey, looking to religion for the meaning of existence. He describes his experiences in this way:
“First, I mean, logically, I’m an Aussie, so I went straight to Christianity, and I thought I’d have that fish sticker on the back of my car, and “I love Jesus”. I was thinking I’d go buy them and see if they did something for my parking fine!” his waggish sense of humour bubbling to the fore. Then seriously he explains, “Honestly I went through all the (Christian) religions; well not all the religions, but the ones I had access to I investigated. Christianity, including Catholicism, I investigated quite a bit. But the problem was I just couldn’t find the answer. While they were all nice, I couldn’t sit there and say, ‘This is the religion for me!’ and ‘This sounds beautiful!’”
His search continued:
“I looked at Hinduism when I was working in a service station with some Hindu friends. We had conversations all the time. We didn’t argue because we were pretty good friends. One would say, ‘You have to believe in this god about this, and this god of that.’ I would go, ‘Come on man! What if they argue?’ He was not to know it, but his argument was one already mentioned in the Qur’an: “Allah hath not chosen any son, nor is there any god along with Him; else would each god have assuredly championed that which he created, and some of them would assuredly have overcome others. Glorified be Allah above all that they allege.” Surah 23:91
“Then I looked at Judaism. Again it didn’t get me in the way that I thought it would!”
“However, what started to get me was Buddhism. I thought, ‘This is really nice you know!’ But nowhere
could I read or see that Buddha was actually talking about himself. Not (other than) as a person that you
follow - not as a deity! And this was a religion. “So you know what I mean, it was just a nice way to be. It’s
not ‘This is the purpose of why you are here’. And while it was nice I thought, ‘This can’t be it either.’
“My friend, a Christian who had earlier said to ‘vow to God’, said, ‘Why don’t you try Islam?’
I said, ‘Naah man! They’re terrorists! I’m not going near a mosque. No way!’
“But I found myself near a mosque, Preston Mosque. I went in and started to ask questions. And basically every question I asked, no-one would answer from their minds, everyone was pulling out a Qur’an and saying, ‘Here it is.’ And that really surprised me because (almost) every time I went to a priest, I did not see the Bible once. They almost never pulled out the Bible, they were just, ‘Here’s your answer.’ This was the same with almost every religion. There were some who did read from the Bible a couple of times. But in the mosque, every single time - out came the Qur’an, and that got me. This is not about these people, it’s about the Book, and that’s when I started reading the Qur’an. It took months and months though, six to seven months. I had a lot of questions!”
At the end of these months how did this young man, now twenty years of age, decide to become Muslim?
The crucial moment of his conversion came one night, as he explained:
“One night I had just been speaking to a couple of Australian brothers at the mosque. They told me to take the Qur’an home and read it. I had already taken one, but they gave me this one with big letters - the other one I had was little and was harder to read. That night I sat in bed and lit a candle. I had the window open. It was a nice summer’s night. It had this atmosphere, this religious atmosphere. I was set, and I was sitting there thinking, ‘This is beautiful and very sacred!’
“Everything was really good and I started reading Qur’an and thinking, ‘This is very beautiful, it says exactly what I think it should say.’ It feels like it’s right you know, but I’m not quite there, you know! I just need a bit of a hand. And I sat back, Qur’an in hand, and said, ‘O God, give me a sign! But it has to be pretty good - like lightning,’ - and it was a clear summer’s night. ‘If you do lightning, I’m yours - I’m your servant. And maybe if you can’t do lightning - something like a crack or something; or a flash of light; or the candle! I would be pretty impressed if the candle just blew up to about two feet high, you know, like in the movies!”
“And I’m sitting there waiting!”. . . . .
“Nothing at all happened! Like I couldn’t even say a creak in the wall was my sign! So I’m sitting there pretty disappointed, and I’m angry . . Right? And I’m like, ‘God, I’m asking you. You’re supposed to be All-Powerful! Alright - I’m going to give you a second chance.’ Like that was a fair bit to ask - summer, lightning! ‘Okay, maybe like, a car can just backfire that goes past - that’s something that happens all the time, but at least I’ll know it’s for me.’ So I lowered my levels . . Right?
“Subhan’Allah!” (Exalted is Allah) he exclaims, shaking his head at the very thought of it. “And I’m sitting there thinking, ‘Alright!’ So I look around again - Nothing! All is so silent . . I could have been in space. Not even an ant made a noise, and by this time I was shattered, because this was the moment! I had thought, ‘This is it!’ you know, ‘This is my time!’ . . . And nothing happened!”
“So I’m sitting there, pretty disappointed, and I thought, ‘I may as well keep on reading Qur’an”. So I looked down and turned the page, and the very next ayat (verse) was something to the effect: For those of you who ask for signs, have I not shown you enough already? Look around at the sky, the trees, the water, these are your signs. These are the Signs for those who know!”
“Lo! In the creation of the heavens and the earth, and the difference of night and day, and the ships which run upon the sea with that which is of use to men, and the water which Allah sendeth down from the sky, thereby reviving the earth after its death, and dispersing all kinds of beasts therein, and (in) the ordinance of the winds, and the clouds obedient between heaven and earth: are signs (of Allah's Sovereignty) for people who have sense.” Surah 2:162
“I was sitting down; I freaked out! I closed the Qur’an and chucked the quilt over my head. I was freaking out because here it was! You know what I mean?”
“So the next morning I went straight to the mosque and told them I wanted to become Muslim, because I had had my sign. I had it, even thought it was not my sign. I shouldn’t be arrogant and think I have a sign.
Isn’t the water my sign and all these things around me are signs, you know, that there is a Creator!”
With this in mind, one cannot help but wonder whether this young man had put aside all his previous fears of terrorism and danger which he and countless peoples perceive to be part of Islam and Muslims?
“That evening at the mosque there were all these Muslims there - heaps of people! And I’m thinking, ‘Look at this religion. So many people! They’re all so strong!’ Then I realised that it was the first night of Ramadan, the fasting month. They were all there to do their last prayer (for the day) you know. But I really did think this was amazing. So you see, my first real experience there was this. Quite honestly there must have been a thousand people at Preston Mosque that night, maybe more!
“While I was waiting to give the Shahadah (the declaration of faith) there at tarawih (the night prayer during Ramadan), I’m sitting there thinking, ‘If I get these words wrong I’m a dead man! They’re going to kill me!’
“So now I’m standing up there, in front of all these people, and Sheikh Fehmi says to me, ‘These are the words that you say,’ and so I started saying them. And I’ve got to admit that I was nervous before - but as soon as I started speaking the words, I felt like it was just me standing there by myself; like, that there was no-one else, and I felt, honestly, the only way I can describe this feeling is as if there is a shower on the inside of my head - a cold shower, going straight through my body. I’m standing there, hair standing on end . . . then all the brothers came and hugged me!”
One can only imagine the warmth and fellowship that this young brother experienced; such that fear of terrorism and its accompanying horrors melted away in the light of knowledge and the empathy of brotherhood which is peculiar to Islam alone. Is it not said: “He it is that hath strengthened thee (Muhammad) with His aid and with (the company of) the Believers. And (moreover) He hath put affection between their hearts: Not if thou hadst spent all that is in the earth, couldst thou have produced that affection, but Allah hath done it: for He is Exalted in might, Wise.”(Qur’an 8:62,63).
However, this was not all he learned, his education was just beginning:
“But you know, I didn’t even know how to pray! I had to fast - and I was still eating ham! I didn’t even know that you shouldn’t eat it - so I’m fasting and then eating, like, a whopper burger with ham. I didn’t know it was haram (forbidden) but I did know that you’re not supposed to eat from before sunrise until after sunset. You know, I was fasting, but it was pretty hard!”
So did Abu Bakr, his chosen Islamic name, finally reach his goal?
“I (now) know why I am here; what I am here to do; and what it is all about.”
When asked if becoming Muslim had changed his personality and his life his reply was:
“I feel like I am here for a different purpose, but I don’t think that if you met me when I was fifteen years old and then you met me now that you’d say, ‘Man! You have changed so much! You’re not the same person I knew before.’ I think I have carried through most of the person I always was. I just don’t do some things I used to do. And I don’t think in some ways about things that I used to think about. I think I’ve always been positive, but Islam has given me that (extra) - like if the guy outside put his bobcat through the house, I’d just go: ‘Subhan’Allah! I’ll have to fix that.’ It’s not like I’m going to go, ‘Oh why do you always do this to me?’ You know, it’s just a thing that is not so important. Probably my priorities are completely different. Like, before, it was all (about) me!”
Abu Bakr’s family received news of his reversion very positively: “My family was happy for me but concerned as to how this would change our relationship.” Of course friendships did not all stand the test: “I lost a few friends (so-called) as I no longer wanted to drink, go out, etc.”
Of reversion generally he stated: “I use the word revert because, I mean, everyone uses convert because that is just a Western ideal. You know (in the Western context) that you have converted to something. But when you look into Islam I guess you realise that the term Muslim just means it comes from Islam, Right? It is a statement of what you are. So Islam means to submit your will to God; to do what God asks you to do; whereas a Muslim is someone who is doing it. So if you are not doing what God has asked you, you are not a Muslim.
So, in effect, Muslim is not a noun, it’s a doing word (a verb). Therefore, my tree in the backyard is doing what God asked it. The tree is Muslim to me, you know! It’s submitting its will to God. Everything has energy. So when you’re born, you’re Muslim, you know! ‘I’m hungry’ - you cry - that’s Islamic you know,” he says laughing. “You are acting in accordance with your nature, and it’s only when you get a little bit older, and people teach you stuff, that you go away from Islam because you take on someone else’s ideals. Then when you want to come back, you revert, because you were already Muslim when you were born.”
So it was that in 1996 in Preston Victoria a young Australian man found that for which he was searching. His life has been quite eventful and it is noted that Abu Bakr is now a Psychologist and a Film maker. May it please Almighty Allah to continue to bless this young man.
Friday, May 21, 2010
Saturday, February 06, 2010
Penentang masjid

Daniel Streich, ahli politik Swiss, yang terkenal kerana kempen menentang pembinaan masjid di negaranya, tanpa disangka-sangka memeluk agama Islam.
Streich merupakan seorang politikus terkenal, dan dia adalah orang pertama yang mencetuskan perihal larangan kubah masjid, dan bahkan mempunyai idea untuk menutup masjid-masjid di Swiss. Dia berasal dari Parti Rakyat Swiss (SVP). Pengumuman kesaksian Streich ke agama Islam membuat heboh seluruh Switzerland.
Streich mempropagandakan anti-gerakan Islam begitu meluas ke seantero negeri. Dia menaburkan benih-benih kemarahan dan cemuhan bagi umat Islam di negara itu, dan membuka jalan bagi opini publik terhadap mimbar dan kubah masjid.
Tapi sekarang Streich telah menjadi seorang pemeluk Islam. Tanpa diduganya sama sekali, pemikiran anti-Islam yang akhirnya membawanya begitu dekat dengan agama ini. Streich bahkan sekarang mempunyai keinginan untuk membangun masjid yang paling indah di Eropah di Switzerland.
Yang paling menarik dalam hal ini adalah bahawa pada saat ini ada empat masjid di Swiss dan Streich ingin membuat masjid yang kelima. Dia mengakui ingin mencari “pengampunan dosanya” yang telah meracuni Islam. Sekarang adalah fakta bahawa larangan kubah masjid telah memperoleh status undang-undang.
Abdul Majid Aldai, presiden OPI, sebuah LSM, bekerja untuk kesejahteraan Muslim, mengatakan bahwa orang Eropah sebenarnya memiliki keinginan yang besar untuk mengetahui tentang Islam. Beberapa dari mereka ingin tahu tentang hubungan antara Islam dan terorisme; sama halnya dengan Streich. Ceritanya, ternyata selama konfrontasi, Streich mempelajari Alquran dan mulai memahami Islam.
Streich adalah seorang anggota penting Partai Rakyat Swiss (SVP). Dia mempunyai posisi penting dan pengaruhnya menentukan tindakan parti. Selain petisyennya tentang kubah masjid itu, dia juga pernah memenangkan militer di Swiss Army kerana popularitinya.
Lahir di sebuah keluarga Kristian, Streich melakukan studi komprehensif Islam semata-mata untuk memfitnah Islam, tapi ajaran Islam memiliki dampak yang mendalam pada dirinya. Akhirnya dia malah antipati terhadap pemikirannya sendiri dan dari kegiatan politiknya, dan dia memeluk Islam. Streich sendiri kemudian disebut oleh SVO sebagai syaitan.
Dulu, dia mengatakan bahwa dia sering meluangkan waktu membaca Alkitab dan sering pergi ke gereja, tapi sekarang dia membaca Alquran dan melakukan solat lima waktu setiap hari. Dia membatalkan keanggotaannya di parti dan membuat pernyataan publik tentang keIslamannya. Streich mengatakan dia telah menemukan kebenaran hidup dalam Islam, yang tidak dapat dia temukan dalam agama sebelumnya.
Friday, February 05, 2010
HidayahNYA di dlm bas

HALIMAH David dibesarkan oleh bapanya dengan penuh kasih sayang malah aspek pemantapan agama Kristian sentiasa menjadi teras dalam pendidikan anak kesayangannya itu.
Lantaran itu, Halimah telah mula membaca kitab Injil sejak di peringkat sekolah rendah lagi. Sayangnya, Halimah tidak berupaya memenuhi permintaan serta cita-cita bapanya agar dia menjadi seorang pengikut agama Kristian yang setia. Ini kerana pada ketika itu jugalah dia sudah mula mempersoalkan beberapa amalan dalam ajaran agama agung bapanya itu yang dikatakan tidak selari dengan fitrah manusia dan pelbagai lagi yang boleh dipersoalkan.
Sehinggakan pada usianya mencecah 12 tahun, Halimah sudah tidak boleh menerima agama Kristian. Namun, dia tidak mampu berbuat apa-apa memandangkan usianya yang baru setahun jagung. Pun begitu, Halimah tidak pernah berhenti mencari Allah Yang Esa dan selalu berdoa agar dipertemukan dengan kebenaran-Nya. Pada usia semuda itu, dia kerap bermonolog dalam diri terutama yang menyentuh kewujudan manusia, makhluk lain dan kejadian alam semula jadi.
Persoalan-persoalan seperti mengapa aku diwujudkan dan bagaimana boleh wujudnya bumi dan alam ini kalau tidak ada satu kuasa hebat di sebaliknya? Halimah kuat mempercayai bahawa semua ini pasti ada yang menjadikannya. Pada usianya 19 tahun, Halimah telah mengembara hampir ke seluruh dunia demi mencari budaya dan kepercayaan lain demi keinginan mencari Allah Yang Maha Berkuasa. Ketika itulah ia mengenali agama Taoism, Wicca, Buddha, Rastafarian, Yahudi, Free Masonry, Kristian, Hindu, Animisme dan banyak lagi.
Menerusi pencariannya itu juga Halimah pernah mengenali tentang agama Islam. Dia tahu bahawa agama Islam itu mengakui tiada Tuhan yang disembah melainkan Allah dan Nabi Muhammad itu pesuruh Allah.
Seperkara yang menghairankan Halimah pada agama Islam ialah solat lima waktu sehari semalam. Ini kerana dia merasakan ia sesuatu yang menyukarkan dan tidak mungkin ia adalah agama yang dicari-cari selama ini.
Masa berlalu, apa yang dicari tidak juga ditemui, lantas Halimah pulang ke Amerika Syarikat dengan perasaan hampa dan kecewa kerana apa yang diingini tidak kesampaian.
Pada usianya menghampiri 21 tahun, dia mengambil keputusan mengikuti bidang perubatan yang menjadi impian dan cita-citanya sejak kecil. Keputusan ini juga merupakan satu langkah untuk melupakan kekecewaan. Alhamdulillah, Halimah lulus peperiksaan khas kemasukan. Untuk ke kolej, Halimah terpaksa mengambil bas Greyhound dari Michigan menuju ke Colorado. Semasa dalam perjalanan itulah, anak gadis ini berkenalan dengan seorang pemuda yang duduk di belakangnya. Namanya, Ibrahim yang berasal dari Afrika dan mengambil bidang kejuruteraan di kolej yang sama.
Ibrahim memberitahu Halimah yang dia beragama Islam. Sepanjang perjalanan itulah banyaklah yang diceritakan oleh Ibrahim tentang agama Islam kepada Halimah disertakan sekali dengan petikan ayat-ayat daripada al-Quran. Apatah lagi, Halimah memang sedang mencari agama yang benar-benar boleh mengisi kekosongan dalaman yang dicari-cari selama ini. Hati Halimah sudah jatuh cinta kepada agama Islam, waima mereka baru berbual 15 minit. Tanpa berlengah, Halimah terus menyuarakan keinginannya untuk bergelar Muslim dan akhirnya mengucap dua kalimah syahadah dengan bantuan Ibrahim. Saat itu juga Halimah tidak meneruskan pengajiannya tetapi mengambil keputusan mendalami agama Islam dan berpindah ke Utah. Di sana, Halimah bertemu dengan ramai Muslim dan mereka menerimanya sebagai sebahagian daripada komuniti Islam di situ serta mengajarnya tentang agama Islam.
Kini, Halimah sudah berkahwin dan gembira menguruskan rumah tangga. Di samping itu, beliau juga menulis buku-buku ilustrasi untuk kanak-kanak. Dia turut mengendalikan laman web berkaitan kepercayaan Islam, keperibadian, sikap dan etika perniagaan Islamik.
Petikan daripada laman web Islam Online.net.

